May 6, 2009

It's Been Two Hard Week, curhat dulu ahhhh

1 comments

Waktunya nge-junk di blog!!! Sudah dua minggu ga pernah mampir bersua di blog, nih! Dua minggu ini terasa begitu melelahkan. Sangat Melelahkan.

Minggu ke 4 bulan April, tepatnya tanggal 21 April, akhirnya Saya berhasil seminar hasil penelitian! Fyuh, lega rasanya. Dua minggu sebelum seminar, kepala rasanya stress, cape, kesal, menjadi irritable, dan campur aduk. Harap-harap cemas. Persiapannya terasa minimmm banget!! (makanya deg-degan) Tapi menurut pengalaman teman seangkatan dan senior-senior, yang namanya seminar hasil pasti deg-degan! karena merasa masih wajar, jadinya ya tidak ada hal yang perlu perhatian lebih!

Beberapa hari setelah seminar, mulai nih takabur. Bukannya revisi, malah kaya abis keluar dari penjara, main pump it mulu! duh, sekarang baru kerasa deh ni! Ternyata mengurus surat ini itu untuk keperluan yudisium butuh waktu yang cukup lama, salah satunya butuh tanda tangan 12 kepala laboratorium! belum lagi mengurus keperluan dan kelengkapan KTI paska seminar.

Akibat takabur dan lalai, jadinya keteteran deh sekarang!! belum lagi keteteran gara-gara denda perpustakaan yang nominalnya cukup bikin kantong bolong (gini inh akibat takabur dan lalai di masa lalu, lupa ngembaliin buku!! arghhhh)
tapi ALHAMDULILLAH udah jadi revisi-annya, udah jadi hard-cover-annya, tinggal distribusinya!
Dua hari lagi pulang ke rumah!! senang!!! senang!! senang!!

semoga 4JJI memudahkan dan melancarkan segala urusan duniawi ini! amin!

ga sabar ingin pulang, ga sabar menanti yudisium 23 mei, ga sabar wisuda bulan depan... ga sabar pengen koasss


-sariyangkangenayahibu-



Apr 26, 2009

Belajar di Negeri Wong Londo : Masuk Ke Komunitas Global

10 comments


Mengenyam pendidikan di Eropa memang menjadi impian saya sejak kecil. Entah dimanapun, Eropa adalah hal yang menarik dan keren. Kultur yang unik, orang berkulit putih, udara yang sejuk, salju dan masih banyak lagi. Mungkin ini hanya euforia masa kecil saja. Sekarang, mencoba peruntungan sekolah di negeri lain harus didasari dengan paradigma yang berbeda, yaitu bagaimana memasuki dunia global dengan komunitas yang tergabung dalam satu visi.


Dunia menghadapi berbagai permasalahan! Mari coba melihat salah satu bagian kecil dari dunia, yaitu negeri kita, Indonesia. Masalah kemanusiaan, lingkungan, kesehatan, tata letak kota, kriminalitas, perekonomian dan lain-lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan rupanya permasalahan ini juga dihadapi di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Itulah sebabnya, mengapa kita harus berpikir tentang komunitas global. Jika komunitas dunia telah memahami betapa pentingnya pemecahan permasalahan tersebut, tentunya kita menjadikan itu sebagai visi dan misi bersama.

Dengan komunitas global, penghuni dunia saling bekerja sama, bertukar ilmu dan berbagi informasi untuk memecahkan permasalahan dunia dan negara masing-masing

Study in Holland : a ticket to global community?
Benar-benar mengundang rasa ingin tahu saya! Belanda gencar mempromosikan diri agar banyak warga mancanegara memilih negeri tersebut sebagai negara tujuan belajar, bukan hanya sebagai negara tujuan pariwisata. Lihat banner disamping ini. Seminggu yang lalu, diluncurkan pula promosi video mengenai Study in Holland yang dapat diakses di sini. Saya segera mencari tahu!

Apa saja fakta bersahabatnya?

1. Belajar di Belanda Menggunakan Bahasa Inggris

Amerika dan Australia menjadi pilihan kebanyakan orang Indonesia untuk melanjutkan studi. Alasan yang paling mungkin adalah penggunaan bahasa. Eropa jarang menjadi pilihan studi karena kendala bahasa. Namun ternyata, Belanda adalah negara pertama yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu yang menawarkan hampir seluruh pendidikan tinggi diajar dalam Bahasa Inggris. Saya yakin, hal ini begitu esensial bagi seluruh warga mancanegara yang ingin melanjutkan studi di negara orang. Komunikasi yang mudah akan memudahkan seseorang untuk memahami materi perkuliahan. Berita baiknya, Orang-orang di Belanda juga dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, tentunya juga akan memudahkan kita, orang asing, untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

2. Belanda : Negara Maju dan Unggul dalam Berbagai Bidang dengan Kualitas Pendidikan yang Baik

Tidak dapat dipungkiri, Belanda unggul dalam berbagai sektor. United Nation Development Programme (UNDP) menempatkan Belanda di urutan ke-9 sebagai negara dengan Human Development Index tertinggi di dunia. Negara tanah rendah ini melalui berbagai fase sejarah perkembangan sains dan teknologi yang memukau. Belanda merupakan pelopor penggunaan energi angin dan pembendungan air laut. Amsterdam dikenal mampu untuk mendaur ulang sampah kota menjadi energi listrik. Belum lagi kemampuannya dalam mengekspor hasil pertanian yang menempatkan Belanda sebagai negara pengekspor hasil pertanian ke-3 setelah USA dan Perancis.

Ironis memang! Negara yang hanya mempunyai luas tidak lebih dari sepertiga pulau jawa dan padat penduduk serta sepedanya ini, mampu menjadi negara yang unggul dalam berbagai bidang. Hal ini berdampak kepada sektor pendidikan, dimana banyak warga mancanegara berminat untuk menimba ilmu disini. Tak heran jika jumlah mahasiswa internasional mencapai 70.000. Sains pertanian, kedokteran, Seni dan Arsitektur, Manajemen dan Teknik Sipil merupakan bidang-bidang yang diunggulkan di perguruan tinggi di Belanda.

3. Biaya Kuliah dan Biaya Hidup yang Relatif Murah

Blog yang menjadi referensi saya menyebutkan bahwa biaya kuliah dan biaya hidup relatif murah jika dibandingkan dengan USA dan Australia. Biaya kuliah yang ditempuh pada masa ajaran 2007-2008 adalah € 1538 dengan biaya buku sebesar € 300 pertahun dan biaya hidup rata-rata € 700 per bulan. Jika menggunakan google currency converter, kira-kira biaya hidup sebulan dalam Rupiah adalah Rp. 9.996.210 dengan biaya kuliah mencapai Rp. 31.959.311. Biaya kuliah ini tergolong murah namun biaya hidupnya yang mahal! Namun, jangan kuatir! Berbagai beasiswa disediakan sebagai solusi bagi mahasiswa mancanegara yang berminat untuk sekolah di Belanda, StuNed misalnya. Informasi beasiswa lainnya juga dapat diperoleh di Neso.












Ya! Keindahan dan keunikan Belanda menjadi fakta lain yang membuat saya menginginkan negeri ini sebagai negara tujuan sekolah. Hampir seluruh warga di Belanda mempunyai dan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Menyenangkan sekali!
Keindahan alam, sepatu kayu, bunga tulip, ribuan museum, jembatan-jembatan unik! Wew, ini merupakan nilai pariwisata yang tidak didapatkan di negara lain!

Sekarang Saya tahu, kenapa wong-wong londo ini begitu percaya diri dengan promo study in holland-nya?
It's truly a place to get together, to learn and to know many. It's a ticket to a global community!


Satu hal yang tidak boleh dilupakan. Belanda menawarkan link sains dan kerja sama yang menarik. Kemajuan teknologinya membuat Indonesia harus berguru dengan baik kepada negeri tanah rendah itu. Jika sudah merasakan pendidikan di negeri tersebut, janganlah lupa kepada tujuan mulianya, Kawan!

Think Global and Act Local!

Siapkah anda menj
elajah Belanda?



P.S :
Fakta-fakta menarik dan bersahabat diatas dirangkum dari referensi dibawah ini. Semoga bermanfaat. Have a Look at these things :
3. Nuffic
4. Holandia
5. Rianne Azis
6. internationalgraduate.net

Gambar indah dan menarik diambi di :
1. allposter.com
2. internationalgraduate.net
3. tune-into-it.com
4. Philipmartin.info

Apr 23, 2009

Woman and Feminism in My Perspective

0 comments

Dua hari yang lalu, 21 April, merupakan hari yang diperingati sebagai hari Kartini. Sosok Kartini dianggap sebagai sosok yang wanita yang mengingatkan kita dengan emansipasi, pendidikan dan kesetaraan gender. Kartini berpikir dengan cara yang berbeda. Kartini menulis, bersekolah dan mengenyam pendidikan serta kehidupan sosial, berbeda dengan kebanyakan wanita pada jamannya. Sosok Kartini menjadi idola bagi para penganut feminisme dan liberalisasi perempuan.

Saya agaknya merasa ngeri dengan terminologi feminisme dan liberalisasi wanita. Menurut saya, terminologi itu terdengar keras dan menyimpang dari apa yang dahulunya diperjuangkan, semoga asumsi saya tidak benar. Yang ada pada bayangan Saya ketika mendengar kata-kata tersebut adalah wanita-wanita yang speak up yang menginginkan kesetaraan hak dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan; politik, seksual, sosial dan intelektual. Aplikasi dari teori ini belum sepenuhnya Saya ketahui. Dari beberapa bacaan, Saya melihat bahwa kecenderungan feminisme adalah kesetaraan gender, emansipasi dan gerakan untuk meninggalkan sistem patriarkal dalam kehidupan berkeluarga. Mungkin tidak hanya itu, ada yang mau menambahkan?

Gerakan kesetaraan gender, menurut Saya, dalam aplikasinya, tidaklah selalu hal yang menyimpang. Sejarah dari pergerakan kaum perempuan di Indonesia dipelopori oleh sosok Kartini yang menginginkan kesetaraan gender, khususnya dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial. Sejarah pun mencatat adanya jejak-jejak perjuangan kaum perempuan yang mempunyai niat dan tujuan sangat luhur. Kongres Perempuan Indonesia, 1928 menghasilkan suatu kesepakatan untuk memperjuangkan sekolah bagi anak perempuan, tunjangan kepada janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia, beasiswa bagi perempuan dan pemberantasan perkawinan anak-anak. Sungguh tujuan yang mulia, memperjuangkan hak perempuan yang sebelumnya tidak didaptkan oleh perempuan pada jaman itu.

Gerakan feminisme, saat ini terkadang menginginkan sesuatu yang lebih. Ajakan meninggalkan sistem patriarkal merupakan suatu penyimpangan dari apa yang menjadi kodrat perempuan. Kodrat ini datangnya bukan dari Arab, bukan dari bualan-bualan ajaran Islam tapi sesungguhnya berdasarkan perbedaan mendasar, secara fisik dan kemampuan lain, antara perempuan dan laki-laki. Ya, kebanyakan gerakan feminisme anti terhadap kebudayaan Arab yang mengatur mengenai perempuan. Saya tidak ingin menyinggung bagaimana kebudayaan Arab dan ajarannya tentang perempuan, namun lebih mengenai perempuan dan kehidupannya menurut perspektif saya.

Saat ini, Saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa seseorang tidak dapat mengenyam pendidikan di Indonesia karena gendernya adalah perempuan. Hal ini merupakan buah hasil kerja yang dipelopori Kartini dan gerakan-gerakan kaum perempuan. Lalu apa yang sekarang dikhawatirkan pihak perempuan pro feminisme? Pekerjaan rumah tanggakah? melahirkankah? Poligamikah? kekerasan rumah tangga?

Some point are relevant, some arent. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membereskan rumah, memasak, merawat anak sepertinya dipandang sebagai suatu pekerjaan yang rendah, sehingga beberapa perempuan merasa bahwa bukan hanya perempuan yang bertugas untuk mengerjakan tugas tersebut. Yang salah disini adalah asumsi publik. Pekerjaan rumah tangga bukanlah hal yang rendah, melahirkan memang menyakitkan tapi bukan juga suatu penyiksaan terhadap perempuan. Perempuan harus sekolah! karena mendidik anak dan generasi bangsa memerlukan suatu sosok yang berpendidikan.

Sungguh, perempuan merupakan sosok yang indah! A wife is the greatest one behind the great husband. "Behind" disini bukanlah sesuatu yang rendah, bukan sesuatu yang tidak setara. Justru hal inilah yang mengagumkan. Islam justru sangat mengagungkan sosok perempuan. Perempuan dianggap lebih baik untuk tidak mengerjakan yang pekerjaan lebih berat dibandingkan laki-laki, bukan karena tidak mampu, namun karena perempuan sangat dihormati.

Men are from Mars and Woman are from Venus. They are different from any side. Mereka tidak bisa disejajarkan, because they arent same, namun bukan berarti tidak dapat diharmoniskan. Yang diperlukan saat ini bukanlah kesetaraan gender namun bagaimana mengharmoniskan kedua makhluk yang sangat berbeda dan saling memahami fungsi-fungsi yang dijalankan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.

Selamat Hari Kartini!
Semoga perempuan dan laki-laki dapat saling hidup harmonis, menjadi team work yang baik dalam kehidupan berkeluarga dan berkehidupan sosial.



Apr 19, 2009

Blogger Award

6 comments

Terimakasih untuk mas madysta yang telah memberikan saya blogger award. :)


Dan


Karena amanahnya adalah meneruskan award ini, maka Saya akan teruskan!!

Well, Im giving this award to my friends. Atas kesediaanya membaca, mengunjungi, mengomeni dan mengisi buku tamu saya. :)


The award goes to :
madhysta
Gilang Ramadhan
GD Permana
Zujoe
Dani Gunawan
Pieps
Arie Geologist
Mastrie
Herman
ferniawan

Teman-teman yang telah diberikan award diharapkan meneruskan award ini dengan memberikan award kepada sepuluh teman yang lain. Kopi paste image diatas dan berikan kepada teman tersayang anda.

Salam hangat,
semoga pertemanan dunia maya ini semakin erat!

Sari

Apr 15, 2009

Kok Obatnya Gini?

8 comments

Kurang lebih dua bulan yang lalu, berita mengenai kontroversi penggunaan obat puyer marak diberitakan di berbagai media, bahkan salah satu stasiun televisi swasta menayangkan secara eksklusif dan membahas tema ini berulang kali. Peresepan obat puyer dianggap tidak layak dengan berbagai alasan : polifarmasi, tidak higien, ketinggalan jaman dan sebagainya. Saya pikir berita ini cukup menambah deretan dosa penyedia layanan kesehatan serta mempertegas mindset dan opini publik mengenai buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia.

Walaupun sekarang berita ini tidak lagi hangat di media massa, terganti oleh tema pemilu 2009, namun masih ada beberapa berita berisi pengalaman publik mengenai kegagalan pelayan kesehatan dalam pemberian resep, atau bahasa kerennya pola peresepan yang tidak rasional. Ternyata masih ada saja dan akan terus ada berita-berita seperti ini. Saya baru saja membaca dari sebuah forum komunitas terbesar di Indonesia (katanya gan!), dan ironisnya, pengalaman ini dirasakan sendiri oleh seorang dokter. Ia berkeluh kesah mengenai teman sejawatnya yang melakukan peresepan polifarmasi yang menurutnya tidak perlu diberikan terhadap saudaranya yang sedang dirawat di salah satu rumah sakit swasta.

Mengulas sedikit mengenai pola peresepan irasional : apakah pola peresepan irasional itu? Peresepan obat tidak rasional merupakan peresepan obat yang tidak seharusnya. Saya akan mencoba mempersingkat, intinya adalah peresepan tidak pada tempatnya, berlebihan atau kurang (pada banyak kasus adalah berlebihan, memberikan obat bermacam-macam padahal tidak perlu, polifarmasi), walaupun definisi ini mencakup hal yang luas. Pemberian obat yang tidak seharusnya diberikan, tidak mengikuti kaidah ilmu berbasis bukti (evidence-based medicine), pemberian dosis yang tidak sesuai, , pemberian obat yang mahal padahal tersedia obat yang murah hingga pemakaian obat yang disuntikan (tanpa indikasi, tentunya) juga terkategori sebagai peresepan irasional. Banyak hal yang tidak diketahui publik! Polemik obat puyer ditambah berita-berita santer mengenai malpraktik saja sudah membuat publik semakin yakin bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia buruk. Apalagi jika publik mengetahui dengan cermat dan mengkritisi banyak hal inside this sector, bisa-bisa orang-orang kelas atas akan semakin yakin dan bangga untuk mencari pelayanan kesehatan ke negeri seberang.

Dampak yang disebabkan oleh peresepan yang tidak rasional mencakup berbagai hal. Saya tidak akan membuat pandangan yang subyektif, entah dampaknya besar atau tidak, ini semua tergantung. Yang paling mungkin dirasakan oleh masyarakat adalah pembiayaan kesehatan yang mahal. Mari kita ambil beberapa contoh peresepan yang tidak rasional (diambil dari kasus curhatan yang saya baca tadi yah!). Seorang dokter meresepkan ranitidin suntik (obat sakit lambung, maag), parasetamol bermerek yang terus diresepkan walau pasien mengaku sudah mempunyai parasetamol dan ondansentron (obat anti muntah). Sementara pasien diduga Demam berdarah karena trombositnya hanya berjumlah 82.000 (normal : 150.000-450.000) dan tidak mengeluhkan adanya mual, muntah dan maag serta sudah mempunyai parasetamol generik . Hal ini yang dianggap tidak rasional olehnya. Hitung saja jumlah kesalahan yang terkategori sebagai peresepan obat tidak rasional. Ya, keselahan peresepan seringkali terjadi tidak hanya satu kesalahan dalam satu waktu, bisa saja dua atau tiga kesalahan.

Kenapa hal ini terjadi? Pekerjaan dokter rentan dengan pekerjaan mendagangkan obat. Dokter dapat meresepkan obat-obatan mahal dan bermerek. Peresepan hingga jumlah tertentu akan menguntungkan pihak pabrik obat dan tentunya dokter yang merespkan. Hal ini tentunya dapat merugikan pasien yang kondisi keuangannya minimal. Namun ada saja mindset, sugesti mungkin, pasien langganan yang menganggap obat mahal adalah obat paten. Mungkin saja, memang! Namun, secara tidak langsung, sebagian masyarakat mendukung kondisi peresepan ini. Hal ini tidak jarang ditemui bahkan di kota kecil sekalipun. Saya sedang menjalani masa koasistensi muda pre klinik waktu itu. Saat sedang follow up pasien, Saya iseng ngobrol dengan pasien tersebut. Ternyata pasien itu masuk rumah sakit karena ingin di tangani langsung oleh dokter spesialis penyakit dalam langganannya (sedang bertugas menjadi konsulen pada minggu itu), karena dianggap obatnya paten. Ia mengaku rela membayar asalkan dokter tersebut yang memberikan resepnya.

Ternyata banyak juga kondisi sosial yang mendukung peresepan obat tidak rasional. Cerita lainnya adalah saat Saya sedang menjalani praktek lapangan di Puskesmas, Saya dibimbing oleh dokter umum yang bertugas dipuskesmas tersebut. Datang seorang nenek yang sudah langganan ke puskesmas itu. Sang nenek mengeluhkan, disetiap kunjungannya, pegel-pegel dan mata yang pandangannya kabur. Tua memang rentan dengan kondisi rematik atau nyeri sendi lainnya dan mata katarak yang membuat penglihatannya tidak jernih lagi. Dokter puskesmas memberikan asam mefenamat (anti nyeri) dan obat salep mata. Saya sempat bertanya mengapa diberikan salep mata, yang juga mengandung antibiotik? Sang dokter menjawab bahwa persediaan obat tetes yang biasa diberikan untuk kataraknya habis. Pasien merasa puas dan lebih baik jika diberikan tetes mata, dan pasien ini rutin datang jika obat tetes matanya telah habis. Intinya karena terbiasa diberikan resep untuk mata dan karena keluhannya adalah matanya, maka dokter memberikan penanganan untuk keluhan mata itu. Medicine is art, masing-masing dokter mempunyai cara tersendiri untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Namun, akhirnya pola yang seperti ini yang membawa dampak. Pola pikir pasien bahwa datang ke dokter maka pulang harus membawa obat, juga mendukung kepada peresepan yang tidak rasional.

Banyak hal lain yang menyebabkan hal ini sulit untuk dihindari, termasuk pelayan kesehatan yang tidak profesional, kurang berpengalaman, tidak mempunyai pedoman pemberian obat dan tidak tahu menahu dengan baik ilmu peracikan obat. Dokter, apoteker , peramu obat dan pemerintah tidak bisa disalahkan sepenuhnya, tapi Saya setuju bahwa komponen ini bertanggungjawab untuk perubahan yang lebih baik. Dan tentunya masyarakat juga harus berpartisipasi.

Lalu apa yang bisa diperbuat?

Pasien diharapkan lebih cermat. Pasien mempunyai hak untuk bertanya, mendapatkan penjelasan atas apa yang diberikan dokter serta mendapatkan resep generik jika tidak mampu membeli obat bermerek. Sebaliknya, dokter pun hendaknya berdiskusi dan memberikan penjelasan mengenai apa yang ia berikan kepada pasiennya.

Upaya perbaikan harus menyentuh sektor pendidikan bagi dokter serta kebijakan di masing-masing instansi pelayanan kesehatan. Rumah sakit hendaknya mempunyai komite yang bertanggung jawab terhadap kebijakan obat dan tindakan sebagai petunjuk bagi pemberi resep agar terhindar dari pemberian resep yang tidak rasional. Pada intinya, upaya perbaikan harus didukung oleh seluruh komponen yang terlibat, pemerintah, masyarakat, dan penyedia layanan kesehatan untuk mengatasi permasalahan peresepan obat yang tidak rasional.

Silakan baca referensi ini :