Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Jun 26, 2012

Welcoming our new health minister

at 1:07 PM 0 comments
Tanggal 13 Juni 2012 lalu, Presiden SBY menunjuk dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH sebagai Menteri Kesehatan 2012–2014 menggantikan Almarhumah dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH. Tak berselang lama dari penunjukan tersebut, muncul berbagai hujatan yang kontroversial terhadap kebijakan beliau, menteri kesehatan, terhadap masalah kondom, HIV/AIDS, aborsi, seks dan pergaulan bebas hingga rokok dan berbagai keterkaitan antara items tersebut.

Tidak mengherankan memang, buat seseorang yang sudah berpengalaman bertahun-tahun dibidang tersebut untuk segera speak up tentang ide-idenya, beberapa hari setelah pengangkatannya sebagai orang no.1 di departemen kesehatan. Bu Mboi ini mungkin sudah memikirkan ide-ide tersebut jauh sebelum pengangkatannya tersebut, ndilalahnya, beliau diangkat sebagai menteri kesehatan, dan meledaklah uneg-uneg dan ide-ide tersebut, yang sudah terpendam sejak lama.

Kalau melihat dari permasalahannya, sebenarnya penggunaan kondom sebagai salah satu item pencegahan penularan penyakit akibat seks (bebas ataupun tidak) memang sudah dijalankan dan dikampanyekan sejak lama. Faktanya memang kondom adalah salah satu item kok, ga bisa dibohongi atau disangkal. Tapi, itu kan hanya salah satu dari berbagai item yang terkait dengan permasalahan ini. Yang kebetulan baru-baru ini (katanya) dikampanyekan. There are lots of aspect, kalau membicarakan masalah seks bebas, HIV/AIDS, aborsi dan sebagainya. Akan lebih baik lagi bagi Bu Mboi untuk membawa permasalahan ini menjadi permasalahan Negara dan Rakyat, jadi bukan masalah kesehatannya saja. Mendesak hal ini menjadi permasalahan sosial, pendidikan, bahkan keuangan, melihat bahwa dampak dari HIV/AIDS dan aborsi tersebut adalah terancamnya kelanjutan kehidupan Indonesia dan Dunia di masa depan. The truth is, masalah HIV/AIDS, aborsi dan pergaulan bebas adalah masalah dunia, bukan cuma Indonesia.

Kalau dilihat dari segi kesehatan, apa sih yang dapat kita lakukan lebih dari mempercayai data statistik? mau gimana lagi? benar atau tidak, akurat atau tidak, statistik adalah salah satu elemen yang kita gunakan untuk bergerak dan membuat program kerja. Sayangnya, masalah HIV/AIDS, aborsi dan rokok ini hanya gencar di bidang kesehatan saja (entahlah, mungkin dibidang lain juga gencar dibicarakan, tapi memang orang yang speak up cenderung mendapat perlawanan dan dilema-dilema karena masalah ini terkait masalah agama, etika, politik, budaya dan sebagainya)

Sebenarnya yang dikontroversikan oleh banyak pihak, kemarin, adalah pemilihan kata-kata yang kurang tepat, also waktu yang tidak tepat, yaitu kampanye kondom. Jadi pada marah deh itu orang-orang, khan. Akan lebih baik lagi jika yang dikampanyekan (dari segi kesehatan) adalah bahwa kondom itu tidak 100% mencegah penularan HIV/AIDS, belum tentu juga bisa mengurangi angka aborsi, dan belum tentu juga orang yang rutin seks bebas mau pake kondom  (iyha ga sihh? pernah denger ga sih kalo pake kondom itu ga enak?? ahahaha). Dan ga yakin juga kalo ada kampanye kondom :

1. akan  benar-benar digalakkan, bagaimana justru jika akses kondom yang terlampau mudah justru akan memacu orang untuk seks bebas, ingat-ingat kejahatan terjadi bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Nah lho.
2. akan terdengar sampai pelosok daerah yang komunitas masyarakatnya less educated dan less atracted tentang masalah ini, yang dimana justru kasus peredaran HIV/AIDS disini seperti fenomena gunung es, also juga kasus aborsi. #sedih

Gimana lagi, sepertinya kampanye kondom, jika digencarkanpun, hanya akan berakhir di televisi (yang akan segera hangus oleh berita penangkapan X,Y dan Z atas dugaan korupsi), twitwar, kaskus, kompasiana dan social media lainnya. Tapi apa hikmah dibalik ini, siapa-siapa yang pernah baca, ikut komen, ikut setuju atau tidak setuju, jelas membawa beban dan amanah untuk ikut serta mencegah dan mengkampanyekan pencegahan HIV/AIDS, aborsi, rokok, drugs, pergaulan bebas dan teman-temannya.  Siapapun anda, guru, orang tua, petugas kesehatan, petugas kecamatan, mahasiswa, blogger,ah siapalah. HIV/AIDS dan teman-temannya, termasuk rokok adalah masalah pendidikan, sosial, agama, politik dan budaya, bukan cuma masalah kesehatan saja. Jadi ini adalah PR bersama berbagai pihak (multidiciplinary aspect).

Untuk bu dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, selamat menjalankan tugas sebagai menteri kesehatan. Kami mempercayakan sepenuhnya kepada anda. Semoga Allah SWT selalu melindungi bangsa ini. Amin.

NB :
Sebagai petugas kesehatan, saya beberapa kali menemukan kasus yang dilematis seperti ini, karena bidang kesehatanlah, yang justru hanya mendapatkan dampaknya saja. Kasus yang sering kali saya temui :
1. Di instalasi gawat darurat, terbaring seseorang yang sudah terminal stage, dengan penurunan kesadaran akibat multi organ infection karena sistem kekebalannya sudah sangat minimal
2. Di instalasi gawat darurat, datang seorang ibu sangat muda yang mau melahirkan, terlihat resah dan takut menghadapi persalinan, karena usianya yang sudah subur tapi mentalitasnya belum matang. Sang bidan sibuk mengurus dan membantu administrasi sang ibu yang belum resmi menjadi seorang istri, ah gimanalah pokoknya bisa masuk jampersal
3. Masih di IGD, datanglah seorang remaja muda dengan perdarahan dari jalan lahir belum diketahui penyebabnya, eh pregnancy test positif  #statusabortus
4. Ibu-ibu muda membawa bayinya yang kecil nan mungil ke IGD dengan keluhan perut membuncit dan anak demam serta rewel. Ternyata usia 30 hari sudah diberikan makanan pisang, padahal sang ibu juga mengaku telah diberitahu bidan untuk tidak memberi makanan tambahan pada bayi usia kurang dari 6 bulan, apalagi masih bayi. Apa hubungannya dengan HIV/AIDS dan aborsi? Ga sih, hanya saja, betapa sulitnya mengedukasi masyarakat dengan pendidikan yang rendah, yang masih banyak terdapat dibelahan bumi Indonesia.

Masih banyak lagi dampak dari bidang kesehatan yang pasti banyak ditemui di instansi kesehatan, dan kebanyakan yang saya lihat (subyektif pengalaman pribadi) mereka adalah yang muda, less educated, dan berada di garis kemiskinan, yang tidak mengerti bahwa jika tidak haid lebih dari sebulan, adalah mungkin hamil, yang mungkin juga tidak mengerti bagaimana memakai kondom dan malu untuk membelinya, yang  kalaupun tahu, mereka mungkin diam dan takut, dan juga yang tidak tahu bahwa pergaulan bebas itu sama sekali  tidak keren.

With love, Moli

Apr 26, 2009

Belajar di Negeri Wong Londo : Masuk Ke Komunitas Global

at 10:25 AM 10 comments

Mengenyam pendidikan di Eropa memang menjadi impian saya sejak kecil. Entah dimanapun, Eropa adalah hal yang menarik dan keren. Kultur yang unik, orang berkulit putih, udara yang sejuk, salju dan masih banyak lagi. Mungkin ini hanya euforia masa kecil saja. Sekarang, mencoba peruntungan sekolah di negeri lain harus didasari dengan paradigma yang berbeda, yaitu bagaimana memasuki dunia global dengan komunitas yang tergabung dalam satu visi.

Dunia menghadapi berbagai permasalahan! Mari coba melihat salah satu bagian kecil dari dunia, yaitu negeri kita, Indonesia. Masalah kemanusiaan, lingkungan, kesehatan, tata letak kota, kriminalitas, perekonomian dan lain-lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan rupanya permasalahan ini juga dihadapi di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Itulah sebabnya, mengapa kita harus berpikir tentang komunitas global. Jika komunitas dunia telah memahami betapa pentingnya pemecahan permasalahan tersebut, tentunya kita menjadikan itu sebagai visi dan misi bersama.

Dengan komunitas global, penghuni dunia saling bekerja sama, bertukar ilmu dan berbagi informasi untuk memecahkan permasalahan dunia dan negara masing-masing

Study in Holland : a ticket to global community?
Benar-benar mengundang rasa ingin tahu saya! Belanda gencar mempromosikan diri agar banyak warga mancanegara memilih negeri tersebut sebagai negara tujuan belajar, bukan hanya sebagai negara tujuan pariwisata. Lihat banner disamping ini. Seminggu yang lalu, diluncurkan pula promosi video mengenai Study in Holland yang dapat diakses di sini. Saya segera mencari tahu!

Apa saja fakta bersahabatnya?

1. Belajar di Belanda Menggunakan Bahasa Inggris

Amerika dan Australia menjadi pilihan kebanyakan orang Indonesia untuk melanjutkan studi. Alasan yang paling mungkin adalah penggunaan bahasa. Eropa jarang menjadi pilihan studi karena kendala bahasa. Namun ternyata, Belanda adalah negara pertama yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu yang menawarkan hampir seluruh pendidikan tinggi diajar dalam Bahasa Inggris. Saya yakin, hal ini begitu esensial bagi seluruh warga mancanegara yang ingin melanjutkan studi di negara orang. Komunikasi yang mudah akan memudahkan seseorang untuk memahami materi perkuliahan. Berita baiknya, Orang-orang di Belanda juga dapat berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, tentunya juga akan memudahkan kita, orang asing, untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

2. Belanda : Negara Maju dan Unggul dalam Berbagai Bidang dengan Kualitas Pendidikan yang Baik

Tidak dapat dipungkiri, Belanda unggul dalam berbagai sektor. United Nation Development Programme (UNDP) menempatkan Belanda di urutan ke-9 sebagai negara dengan Human Development Index tertinggi di dunia. Negara tanah rendah ini melalui berbagai fase sejarah perkembangan sains dan teknologi yang memukau. Belanda merupakan pelopor penggunaan energi angin dan pembendungan air laut. Amsterdam dikenal mampu untuk mendaur ulang sampah kota menjadi energi listrik. Belum lagi kemampuannya dalam mengekspor hasil pertanian yang menempatkan Belanda sebagai negara pengekspor hasil pertanian ke-3 setelah USA dan Perancis.

Ironis memang! Negara yang hanya mempunyai luas tidak lebih dari sepertiga pulau jawa dan padat penduduk serta sepedanya ini, mampu menjadi negara yang unggul dalam berbagai bidang. Hal ini berdampak kepada sektor pendidikan, dimana banyak warga mancanegara berminat untuk menimba ilmu disini. Tak heran jika jumlah mahasiswa internasional mencapai 70.000. Sains pertanian, kedokteran, Seni dan Arsitektur, Manajemen dan Teknik Sipil merupakan bidang-bidang yang diunggulkan di perguruan tinggi di Belanda.

3. Biaya Kuliah dan Biaya Hidup yang Relatif Murah

Blog yang menjadi referensi saya menyebutkan bahwa biaya kuliah dan biaya hidup relatif murah jika dibandingkan dengan USA dan Australia. Biaya kuliah yang ditempuh pada masa ajaran 2007-2008 adalah € 1538 dengan biaya buku sebesar € 300 pertahun dan biaya hidup rata-rata € 700 per bulan. Jika menggunakan google currency converter, kira-kira biaya hidup sebulan dalam Rupiah adalah Rp. 9.996.210 dengan biaya kuliah mencapai Rp. 31.959.311. Biaya kuliah ini tergolong murah namun biaya hidupnya yang mahal! Namun, jangan kuatir! Berbagai beasiswa disediakan sebagai solusi bagi mahasiswa mancanegara yang berminat untuk sekolah di Belanda, StuNed misalnya. Informasi beasiswa lainnya juga dapat diperoleh di Neso.












Ya! Keindahan dan keunikan Belanda menjadi fakta lain yang membuat saya menginginkan negeri ini sebagai negara tujuan sekolah. Hampir seluruh warga di Belanda mempunyai dan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Menyenangkan sekali!
Keindahan alam, sepatu kayu, bunga tulip, ribuan museum, jembatan-jembatan unik! Wew, ini merupakan nilai pariwisata yang tidak didapatkan di negara lain!

Sekarang Saya tahu, kenapa wong-wong londo ini begitu percaya diri dengan promo study in holland-nya?
It's truly a place to get together, to learn and to know many. It's a ticket to a global community!


Satu hal yang tidak boleh dilupakan. Belanda menawarkan link sains dan kerja sama yang menarik. Kemajuan teknologinya membuat Indonesia harus berguru dengan baik kepada negeri tanah rendah itu. Jika sudah merasakan pendidikan di negeri tersebut, janganlah lupa kepada tujuan mulianya, Kawan!

Think Global and Act Local!

Siapkah anda menj
elajah Belanda?



P.S :
Fakta-fakta menarik dan bersahabat diatas dirangkum dari referensi dibawah ini. Semoga bermanfaat. Have a Look at these things :
3. Nuffic
4. Holandia
5. Rianne Azis
6. internationalgraduate.net

Gambar indah dan menarik diambi di :
1. allposter.com
2. internationalgraduate.net
3. tune-into-it.com
4. Philipmartin.info

Apr 23, 2009

Woman and Feminism in My Perspective

at 3:37 PM 0 comments
Dua hari yang lalu, 21 April, merupakan hari yang diperingati sebagai hari Kartini. Sosok Kartini dianggap sebagai sosok yang wanita yang mengingatkan kita dengan emansipasi, pendidikan dan kesetaraan gender. Kartini berpikir dengan cara yang berbeda. Kartini menulis, bersekolah dan mengenyam pendidikan serta kehidupan sosial, berbeda dengan kebanyakan wanita pada jamannya. Sosok Kartini menjadi idola bagi para penganut feminisme dan liberalisasi perempuan.

Saya agaknya merasa ngeri dengan terminologi feminisme dan liberalisasi wanita. Menurut saya, terminologi itu terdengar keras dan menyimpang dari apa yang dahulunya diperjuangkan, semoga asumsi saya tidak benar. Yang ada pada bayangan Saya ketika mendengar kata-kata tersebut adalah wanita-wanita yang speak up yang menginginkan kesetaraan hak dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan; politik, seksual, sosial dan intelektual. Aplikasi dari teori ini belum sepenuhnya Saya ketahui. Dari beberapa bacaan, Saya melihat bahwa kecenderungan feminisme adalah kesetaraan gender, emansipasi dan gerakan untuk meninggalkan sistem patriarkal dalam kehidupan berkeluarga. Mungkin tidak hanya itu, ada yang mau menambahkan?

Gerakan kesetaraan gender, menurut Saya, dalam aplikasinya, tidaklah selalu hal yang menyimpang. Sejarah dari pergerakan kaum perempuan di Indonesia dipelopori oleh sosok Kartini yang menginginkan kesetaraan gender, khususnya dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial. Sejarah pun mencatat adanya jejak-jejak perjuangan kaum perempuan yang mempunyai niat dan tujuan sangat luhur. Kongres Perempuan Indonesia, 1928 menghasilkan suatu kesepakatan untuk memperjuangkan sekolah bagi anak perempuan, tunjangan kepada janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia, beasiswa bagi perempuan dan pemberantasan perkawinan anak-anak. Sungguh tujuan yang mulia, memperjuangkan hak perempuan yang sebelumnya tidak didaptkan oleh perempuan pada jaman itu.

Gerakan feminisme, saat ini terkadang menginginkan sesuatu yang lebih. Ajakan meninggalkan sistem patriarkal merupakan suatu penyimpangan dari apa yang menjadi kodrat perempuan. Kodrat ini datangnya bukan dari Arab, bukan dari bualan-bualan ajaran Islam tapi sesungguhnya berdasarkan perbedaan mendasar, secara fisik dan kemampuan lain, antara perempuan dan laki-laki. Ya, kebanyakan gerakan feminisme anti terhadap kebudayaan Arab yang mengatur mengenai perempuan. Saya tidak ingin menyinggung bagaimana kebudayaan Arab dan ajarannya tentang perempuan, namun lebih mengenai perempuan dan kehidupannya menurut perspektif saya.

Saat ini, Saya belum pernah mendengar sama sekali bahwa seseorang tidak dapat mengenyam pendidikan di Indonesia karena gendernya adalah perempuan. Hal ini merupakan buah hasil kerja yang dipelopori Kartini dan gerakan-gerakan kaum perempuan. Lalu apa yang sekarang dikhawatirkan pihak perempuan pro feminisme? Pekerjaan rumah tanggakah? melahirkankah? Poligamikah? kekerasan rumah tangga?

Some point are relevant, some arent. Pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, membereskan rumah, memasak, merawat anak sepertinya dipandang sebagai suatu pekerjaan yang rendah, sehingga beberapa perempuan merasa bahwa bukan hanya perempuan yang bertugas untuk mengerjakan tugas tersebut. Yang salah disini adalah asumsi publik. Pekerjaan rumah tangga bukanlah hal yang rendah, melahirkan memang menyakitkan tapi bukan juga suatu penyiksaan terhadap perempuan. Perempuan harus sekolah! karena mendidik anak dan generasi bangsa memerlukan suatu sosok yang berpendidikan.

Sungguh, perempuan merupakan sosok yang indah! A wife is the greatest one behind the great husband. "Behind" disini bukanlah sesuatu yang rendah, bukan sesuatu yang tidak setara. Justru hal inilah yang mengagumkan. Islam justru sangat mengagungkan sosok perempuan. Perempuan dianggap lebih baik untuk tidak mengerjakan yang pekerjaan lebih berat dibandingkan laki-laki, bukan karena tidak mampu, namun karena perempuan sangat dihormati.

Men are from Mars and Woman are from Venus. They are different from any side. Mereka tidak bisa disejajarkan, because they arent same, namun bukan berarti tidak dapat diharmoniskan. Yang diperlukan saat ini bukanlah kesetaraan gender namun bagaimana mengharmoniskan kedua makhluk yang sangat berbeda dan saling memahami fungsi-fungsi yang dijalankan perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.

Selamat Hari Kartini!

Semoga perempuan dan laki-laki dapat saling hidup harmonis, menjadi team work yang baik dalam kehidupan berkeluarga dan berkehidupan sosial.
 

Moli Sari Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos